Kebakaran lahan dan hutan rupanya menjadi perhatian serius bagi pengusaha Sukanto Tanoto. Pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle (RGE) tak mau kejadian tersebut terus berulang. Maka, perusahaannya menginisiasi Masyarakat Peduli Api sebagai langkah antisipasi.

Nama Indonesia pernah buruk di mata dunia akibat kebakaran lahan dan hutan. Pada tahun 2015, api pernah berkobar hebat di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Akibatnya bencana kabut asap menerpa.

Banyak wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat udara yang buruk untuk pernapasan. Warga terpaksa mengungsi. Masalah tersebut rupanya tidak hanya dirasakan di negeri kita. Di negeri jiran seperti Singapura dan Malaysia, kabut asap juga mengganggu.

Hal ini sempat merusak citra Indonesia di mata dunia dan tidak mengherankan karena wilayah yang terbakar sangat luas. Berdasarkan data dari Terra Modis per 20 Oktober 2015, kebakaran menimpa 2.089.911 hektare.

Luasan itu tidak main-main. Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, area yang terbakar pada 2015 sudah setara dengan 32 kali wilayah Provinsi DKI Jakarta atau empat kali Pulau Bali.

Dibandingkan bencana kebakaran besar pada 1997, kejadian pada 2015 memang masih ada di bawahnya. Namun, tingkat kerugiannya pada 2015 jauh lebih tinggi. Sutopo memperkirakan kerugian yang diderita mencapai Rp20 triliun.

Kondisi ini jelas tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus ada upaya serius untuk mengatasi masalah kebakaran lahan dan hutan. Jika tidak, kerugian terus akan diderita oleh masyarakat. Bahkan, ada hal yang lebih berbahaya. Bukan tak mungkin hutan di negeri kita bisa musnah.

Pengusaha Sukanto Tanoto tak mau hal tersebut terjadi. Sebagai pebisnis sumber daya, ia tahu persis betapa besar potensi alam Indonesia. Jika dimanfaatkan dengan baik, semua itu akan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat.

Sukanto Tanoto sudah membuktikannya bersama RGE. Ia berhasil mengembangkan korporasi yang menaungi perusahaan kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, serat viscose, hingga pengembangan energi menjadi bisnis skala global.

Bayangkan saja, aset RGE sekarang mencapai 18 miliar dolar Amerika Serikat. Mereka juga membuka kesempatan kerja untuk sekitar 60 ribu karyawan. Cabang dan jangkauan bisnisnya tidak hanya di Indonesia. RGE juga mepunyai anak perusahaan yang beroperasi di Singapura, Malaysia, Filipina, Tiongkok, Brasil, serta Kanada.

Kunci kesuksesan Sukanto Tanoto bersama RGE tak lepas dari pemahaman tentang arti keberlanjutan. Ia berhasil mengarahkan operasional RGE agar selalu memperhatikan kelestarian alam. Secara singkat, Sukanto Tanoto berhasil memanfaatkan sumber daya alam dan mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi dengan konsep terbarukan.

Oleh karena itu, kebakaran merupakan ancaman bagi usahanya. Api yang berkobar bisa merusak keseimbangan alam yang berujung terhadap kesulitan produksi RGE. Namun, lebih dari itu, sebagai orang Indonesia, Sukanto Tanoto tak rela kondisi alami Indonesia rusak.

Untuk itu, ia menggagas filosofi bisnis khusus yang dinamai 5C, Good for Community, Good for Climate, Good for Customer, Good for Country and Good for Company. Salah satu poin di dalamnya adalah keharusan bagi semua perusahaan anggota RGE untuk aktif menjaga keseimbangan iklim.

Upaya untuk mencegah kebakaran merupakan salah satu wujud konkret pelaksaan filosofi bisnis 5C di RGE. Anak-anak perusahaannya berlomba untuk menjaga supaya api tidak berkobar liar di lahan dan hutan.

Pada tahun 2014, Grup APRIL akhirnya menginisiasi sebuah program terobosan untuk pencegahan kebakaran. Mereka menamainya sebagai Program Desa Bebas Api.

Kegiatan ini cukup revolusioner. Mereka mengusung paradigma baru dalam manajemen kebakaran hutan dan lahan. Mengapa seperti itu? Program Desa Bebas Api menekankan kepada pencegahan. Api dijaga supaya tidak berkobar.

Bagaimana caranya? Program Desa Bebas Api melakukan terobosan penting. Mereka mengajak masyarakat untuk ikut aktif menjaga wilayahnya dari bahaya api. Ini penting karena selama ini tangan-tangan manusia kerap menjadi pemicu kebakaran. Contohnya adalah kebiasaan membuka lahan pertanian dengan membakar.

Masyarakat di ajak oleh Grup APRIL untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut. Mereka juga dimotivasi dengan pemberian insentif berupa dana Rp50 juta hingga Rp100 juta jika mampu mengamankan wilayah desa dari kebakaran selama setahun.

Grup APRIL memberikan bantuan dalam bentuk pembangunan infrastruktur atau pembuatan hal yang berguna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

UJUNG TOMBAK PROGRAM DESA BEBAS API

Dalam Program Desa Bebas Api, ada kegiatan yang dinamai Masyarakat  Peduli Api. Ini adalah ujung tombak program tersebut. Pasalnya, di dalamnya merupakan upaya untuk membentuk warga yang peduli terhadap bahaya api.

Sifat Masyarakat Peduli Api adalah sukarela. Harus timbul kesadaran sendiri terhadap bahaya kebakaran sehingga peka terhadap keberadaan api di sekitar wilayahnya.

Untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, “mata” warga dibuka terlebih dahulu. Lewat Program Desa Bebas Api, perusahaan Sukanto Tanoto tersebut menanamkan penyadaran tentang bahaya api. Wujudnya bermacam-macam mulai dari seminar, dialog, hingga pemanfaatan komunikasi publik seperti reklame dan pamflet berisi imbauan menjaga wilayah dari kebakaran.

Namun, dukungan RGE dalam program Masyarakat Peduli Api bukan sekadar penyadaran. Perusahaan Sukanto Tanoto ini juga membekali warga dengan kemampuan untuk menjinakkan api. Ini krusial karena warga merupakan yang terdekat dengan kawasan hutan dan lahan sehingga bisa cepat bereaksi ketika api berkobar.

Langkah ini dilakukan oleh anak-anak perusahaan RGE. Salah satu adalah Asian Agri yang ikut mengadopsi Program Desa Bebas Api. Pada April 2017, mereka tercatat memberikan pelatihan dan pembekalan Masyarakat Peduli Api di kawasan Provinsi Jambi.

Asian Agri melakukannya untuk menggembleng Masyarakat Peduli Api di Desa Lubuk Bernai dan Desa Lubuk Lawas. Dalam kegiatan yang dilakukan oleh anak perusahaan Sukanto Tanoto yang bergerak di industri kelapa sawit tersebut, para warga dilatih beragam hal tentang manajemen api.

Oleh instruktur dari Asian Agri, warga diajari kelembagaan dan partisipasi dalam pencegahan kebakaran. Masyarakat juga dilatih beragam teknik pencegahan api, pelaporan, pengenalan peralatan sampai simulasi pemadaman kebakaran lahan dan hutan.

“Pelatihan yang diberikan akan diaplikasikan oleh Masyarakat Peduli Api dalam melakukan pencegahan kebakaran. Program ini juga bagian dari Program Desa Bebas Api yang telah dicanangkan di desa ini sejak 2016 sebagai partisipasi perusahaan dalam mendukung program pemerintah mengantisipasi terjadinya karlahutbun,” kata Head Sustainability and CSR Asian Agri, Welly Pardede, di Info Jambi.

Masyarakat Peduli Api benar-benar merasakan manfaat pelatihan yang dilakukan oleh perusahaan Sukanto Tanoto. Mereka jadi paham pengorganisasian pencegahan kebakaran. Selain itu, warga kini memiliki keterampilan memadamkan kebakaran.

“Kegiatan ini menambah ilmu kami terutama tentang teknik pencegahan kebakaran hutan, lahan dan kebun. Mudah-mudahan ilmu ini dapat diaplikasikan di desa kami,” ucap perwakilan Masyarakat Peduli Api Desa Lubuk Bernai, Cipra.

Peningakatan skill memang jadi prioritas bagi Asian Agri dalam melatih Masyarakat Peduli Api. Mereka dinilai penting karena berada di garis depan dalam pencegahan kebakaran. Selain itu, mereka juga yang menjadi penggerak utama Program Desa Bebas Api. Tanpa mereka, upaya perusahaan Sukanto Tanoto untuk mencegah kebakaran hanya sia-sia belaka.

Facebook Comments