Image Source: Inside RGE http://www.inside-rge.com/Bracell-Privatisation-2016

Pemanfaatan sumber daya sudah menjadi bidang yang digeluti oleh Royal Golden Eagle (RGE) sejak masih bernama Raja Garuda Mas hingga saat ini. Hal itu membuat mereka tahu persis arti kelestarian lingkungan. Akibatnya semua pihak di bawah naungannya berlomba menjaga alam. Salah satunya dengan menekan emisi. Berdiri pada tahun 1973 dengan nama awal Raja Garuda Mas, RGE merupakan korporasi kelas internasional  bergerak di bidang pengelolaan sumber daya alam. Anak-anak perusahaan Royal Golden Eagle ada yang menggeluti kelapa sawit, pulp dan kertas, pengembangan energi, selulosa spesial, serta viscose fibre.

Berkat itu semua, kondisi RGE sejak bernama Raja Garuda Mas hingga kini sudah berubah drastis. Awalnya mereka merupakan perusahaan skala lokal. Namun, sekarang Royal Golden Eagle adalah korporasi global dengan aset senilai 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan 60 ribu orang.

Anak perusahaan serta cabangnya kini tidak hanya ada di Indonesia. Royal Golden Eagle memiliki basis di Tiongkok, Singapura, Malaysia, Filipina, Brasil, hingga Kanada. Sebagai perusahaan yang memanfaatkan sumber daya dan menjadi produk bernilai tinggi serta berguna, RGE tahu persis keuntungan kelestarian lingkungan. Mereka sadar bahwa alam akan memberi lebih banyak jika kita mampu merawat dan menjaganya.

Oleh karena itu, semua pihak di RGE diwajibkan untuk menjaga alam dengan cara masing-masing sesuai dengan filosofi kerja perusahaan Sukanto Tanoto. Dikenal sebagai prinsip 5C, prinsip merupakan arahan agar semua pihak di dalam Royal Golden Eagle bertindak dengan positif. Selain kepada internal perusahaan dan pelanggannya, RGE diwajibkan untuk memberi manfaat kepada masyarakat dan negara.

Namun, melihat kerusakan alam terus terjadi, penambahan poin khusus terkait lingkungan dilakukan oleh Sukanto Tanoto. Ia mengarahkan agar RGE ikut aktif dalam menjaga keseimbangan iklim. Artinya operasional keseharian perusahaan harus memperhatikan alam agar pemanasan global tidak semakin parah.

Maka, anak-anak perusahaan RGE segera mengambil langkah khusus supaya operasional perusahaannya bermanfaat bagi kelestarian alam. Salah satunya ialah dengan mengendalikan emisi. Unit bisnis bagian dari Royal Golden Eagle selalu berupaya keras menekan emisi. Sebab, emisi tinggi akan mendorong efek rumah kaca. Jika itu terjadi, pemanasan global yang merusak keseimbangan iklim dan alam akan terjadi. Upaya menekan emisi juga dilakukan oleh Bracell. Anak perusahaan RGE yang memproduksi selulosa spesial ini berhasil meminimalkan emisi yang dihasilkan.

Hal itu tergambar dari sebuah hasil riset yang dilakukan oleh Geoklock. Perlu diketahui, Geoklock merupakan sebuah lembaga independen yang melakukan pengukuran dan evaluasi terhadap lingkungan dan keberlanjutan. Berbasis di Brasil, mereka dikenal sebagai institusi yang dihormati oleh berbagai pihak.

Pada 2009, Bracell mengontrak Geoklock untuk melakukan survei terhadap emisi yang dihasilkan oleh perkebunan dan pabriknya di Brasil. Unit bisnis bagian dari grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini melakukannya dengan tujuan untuk mengetahui tingkat efek rumah kaca yang ditimbulkan.

Geoklock kemudian melakukan survei dengan basis metode World Resource Institute’s Greenhouse Gas Protocol. Ini adalah sebuah standar global dalam pengukuran dan pelaporan efek rumah kaca perusahaan. Dari riset tersebut terkuak fakta bahwa Bracell sudah berhasil membantu menjaga keseimbangan iklim. Patut diketahui, Bracell mengelola perkebunan seluas 150 ribu hektare sebagai bahan baku selulosa spesial yang diproduksinya secara berkelanjutan. Hal itu membuat mereka mampu meraih ISO 14001 terkait manajemen lingkungan.

PRAKTIK BERKELANJUTAN DI PERUSAHAAN

Image Source: Inside RGE
http://www.inside-rge.com/Bracell-Privatisation-2016

Bracell dikenal sebagai salah satu produsen selulosa spesial terkemuka di dunia. Kapasitas produknya mencapai 485 ribu metrik ton per tahun. Hasil produksinya itu akhirnya bisa dimanfaatkan menjadi bahan dasar atau elemen utama dalam pembuatan frame kacamata, es krim, sosis, deterjen, produk farmasi, ban, hingga kosmetik. Dalam proses produksi, Bracell menjalankannya di sebuah pabrik yang dilengkapi beragam fasilitas modern. Selain untuk efisiensi produksi, hal itu bertujuan untuk membantu menjaga kelestarian alam.

Lihat saja, anak perusahaan Royal Golden Eagle ini berhasil memanfaatkan bahan kimia yang digunakan secara efektif. Sekitar 95 persen bahan kimia yang mereka pakai bisa didaur ulang untuk digunakan kembali. Bukan hanya itu, Bracell konsisten dalam menekan penggunaan energi fosil. Mirip seperti anak perusahaan RGE lain seperti Grup APRIL dan Asian Agri, mereka berhasil mengolah limbah produksinya menjadi sumber energi ramah lingkungan yang terbarukan.

Bahkan, Bracell bisa berkontribusi positif terhadap masyarakat di sekitarnya. Sesudah digunakan untuk operasional perusahaan, energi listrik yang mereka hasilkan ternyata surplus. Kelebihan energi ini disalurkan kepada warga. Sementara itu, terkait pengelolaan perkebunan, Bracell tetap memegang teguh prinsip-prinsip berkelanjutan. Dari lahan seluas 150 ribu hektare yang dikelola, sekitar 20 persen di antaranya dialokasikan sebagai kawasan konservasi. Unit bisnis bagian dari RGE ini menjadikannya sebagai area hutan bernilai tinggi yang dilindungi.

Di perkebunannya, Bracell memilih menggunakan pendekatan berkonsep mosaik. Mereka menanam pohon eukaliptus yang menjadi bahan baku seluosa spesial dengan cara menyebarnya ke kawasan hutan. Ini membuat keaslian ekosistem hutan terus terjaga. Habitat flora dan faunanya pun terus lestari meski ada perkebunan di sana. Berkat ini, sejumlah hasil positif diraih oleh Bracell. Dalam Laporan Keberlanjutan 2016 yang mereka rilis disebutkan bahwa ada spesies bunga dan primata kecil yang nyaris punah terdeteksi di dalam area perkebunannya.

Selain itu, Bracell tercatat mengurangi pemakaian air hingga di atas target yang ditetapkan. Mereka juga berhasil menekan jumlah limbah yang dihasilkan. Limbah yang dihasilkan akhirnya semakin minim sehingga mudah untuk diolah.

“Meski dinilai sebagai sebuah pencapaian besar, hasil-hasil tersebut justru membuat kami lebih bersemangat dalam mengejar target ambisius Bracell. Kami  ingin terus mempertahankan keberlanjutan dalam setiap hektare lahan yang kami kelola dan dalam setiap ton selulosa spesial yang kami produksi,” kata General Manager Bracell, Marcelo Moreira Leit.

Melihat sejumlah langkah serius dan pencapaian yang diraih, tidak mengherankan Bracell sanggup menekan emisi yang mereka hasilkan. Jumlah karbon yang mereka lepas tidak sebanding dengan yang mampu mereka simpan. Hal ini sangat krusial dalam upaya menjaga keseimbangan iklim. Dengan menekan jumlah emisi, efek rumah kaca yang memicu pemanasan global bisa dikurangi atau malah nantinya dihilangkan.

Itulah yang diharapkan oleh Sukanto Tanoto terhadap Royal Golden Eagle. Ia ingin perusahaan yang didirikannya itu aktif mengambil inisiatif dalam menjaga keseimbangan iklim seperti ini.